Pendidikan Belis Sebagai Materi Dasar Pernikahan Kristen: Sebuah Upaya Mewujudkan Komunitas Nir-Kekerasan di Gereja Masehi Injili di Timor

Maya Ressani Beri, Agnes Magdelina Kolly, Novenrik Tambunan

Abstract


Belis (moko) becomes a legitimacy used by men to legalize forms of violence committed against women's bodies. The phenomenon of Belis/moko is often experienced by people in Alor. The erroneous understanding of the belis (moko) culture given to women as a sign of respect and family ties in a marriage is still understood as a place for buying and selling. At the time, this does not rule out the possibility that domestic violence against women still occurs in the family. Even women who experience violence can only shed tears. However, the tears here show the body of a woman who breaks culture and injustice. This paper examines the concept of tears as a reflection of women's learning to actively communicate their injustices as a critical pedagogy of the violence experienced by them due to belis (moko). To reach the level of critical pedagogy proposed by Paulo Freire, the dialogue is realized in three aspects there is love, humility, and trust. These three aspects will build by critical pedagogy of the people in Alor to create a non-violent community by involving GMIT as a learning platform for belis education (moko).

 

Abstrak

Belis (moko) menjadi sebuah legitimasi yang dipakai laki-laki untuk melegalkan bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap tubuh perempuan. Fenomena ini kerap dialami oleh masyarakat di Alor. Pemahaman yang keliru akan budaya belis (moko) yang diberikan kepada perempuan sebagai tanda penghormatan dan ikatan kekeluargaan dalam sebuah perkawinan, masih dipahami sebagai ajang jual beli. Hal ini tidak menutup kemungkinan bila KdRT terhadap perempuan masih sering terjadi dalam keluarga. Pun Perempuan yang mengalami kekerasan, hanya bisa meneteskan air mata. Namun demikian, air mata di sini memperlihatkan tubuh perempuan yang mendobrak budaya dan ketidakadilan. Tulisan ini mengkaji konsep air mata sebagai refleksi pembelajaran perempuan secara aktif mengkomunikasikan ketidakadilan dirinya sebagai sebuah kesadaran kritis atas kekerasan yang dialami oleh dirinya akibat belis (moko). Untuk mencapai level kesadaran kritis yang dikemukakan oleh Paulo Freire, dibutuhkan dialog melalui tiga aspek, yaitu kasih, humality (kerendahan hati), dan rasa percaya. Tiga aspek tersebut membangun kesadaran kritis masyarakat di Alor untuk mewujudkan komunitas nir-kekerasan dengan melibatkan GMIT sebagai wadah pembelajaran pendidikan belis (moko).

 


Keywords


belis, critical pedagogy, domestic violence, moko,non-violent community,Paulo Freire,tears of women, air mata perempuan, kdrt, komunitas nir-kekerasan, perempuan

Full Text:

PDF

References


Dawan, Anil. “Perempuan Alor di Pusaran Kultur Belis: Sebuah Pendekatan Etnografis Melalui Revitalisasi Kultur.” Jurnal Inada vol 2, no. 1 (Juni 2019): 25-41.

Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. Terjemahan Myra Bergman Ramos. USA: Bloomsbury, 2000.

¬¬¬¬¬¬¬¬¬__________________. Education for Critical Consciousness. London, New York: Continuum, 1974.

Gilligan, Carol. In a different voice: Psychological theory and women’s development. London: Harvard University Press.1982.

Grandson, Aruna. “Violence against women is sin: God of life, accompany us on our journey toward a world free of violence.” The Ecumenical Review vol 46 (Oktober 2012): 241-253.

Hardani, Sofia dkk. Perempuan dalam Lingkaran KDRT. Riau: Pusat Studi Wanita Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim. 2010.

Hooks, Bell. Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom. New York: Routledge. 1994.

Ketetapan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) tentang Pokok-pkok Eklesiologi GMIT. Klasis Lobalain: Sinode GMIT, sidang sinode GMIT XXXIII 26 September 2015.

Ketetapan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) tentang Tata Dasar GMIT. Klasis Lobalain: Sinode GMIT, dalam Sidang sinode GMIT XXXIII 29 September 2015.

NKRI Post (Berita seputar NKRI). “Beberkan data, TTU dengan kasus KdRT terbanyak di NTT.” https://nkripost.com/beberkan-datatts-dengan-kasus-kdrt-terbanyak-di-ntt

Nurdin, Dr. Drs. Ismail, M. Si dan Dra. Sri Hartati, M.Si. Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Media Sahabat Cendekia. 2019.

Schweitzer, Carol L. Schnabl. “Violence against women and children: How churches can respond.” Word and World vol 24, no. 1 (2004): 66-73.

Suprayogi, Wiji. Belis Menembus Jaman Menembus Waktu: Fajar Pemantapan Identitas dan Upaya Revitalisasi Budaya di Alor. Kalabahi: Wahana Visi Indonesia. 2014.

Sitoyo, Dr. Sandu dan M. Ali Sodik. Dasar Metode Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publising. 2015.

Wahana Visi Indonesia. Alor untuk Ibu Pertiwi: Sekuntum Kembang Revitalisasi Budaya Malua Galiau. Jakarta: Literatur Perkantas. 2018.




DOI: https://doi.org/10.46929/graciadeo.v5i1.138

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://e-journal.sttbaptisjkt.ac.id/index.php/graciadeo.

JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO telah terindeks pada situs:

Online ISSN: 2655-6863

Printed ISSN: 2655-6871 

Copyright© GRACIA DEO, 2018-2020. All Rights Reserved.

View GD Stats
https://copperindia.org/safety/ https://edu.pcru.ac.th/faculty/slot-deposit-dana/ https://reg3.neu.ac.th/covid19/pic/slot-gacor-terpercaya/ https://www.ba.rmuti.ac.th/slot-deposit-pulsa/ https://www.ba.rmuti.ac.th/slot-gacor/ https://ba.rmuti.ac.th/slot